Gita Laras SMAN 2 Sumenep, Menabuh Tradisi di Tengah Derasnya Zaman
- Yudie -
- 07 Sep, 2026
Para siswa membawa seperangkat musik tradisional Madura itu ke panggung festival dengan energi yang berbeda. Mereka tidak sekadar memainkan alat musik. Ada upaya mempertemukan tradisi yang diwariskan dari generasi sebelumnya dengan cara generasi muda menikmati dan mengekspresikan kebudayaan.
Gita Laras tampil penuh percaya diri. Kekompakan menjadi salah satu kekuatan kelompok tersebut. Setiap pukulan alat musik membentuk irama yang saling mengisi, sementara para siswa menjaga ritme pertunjukan hingga selesai.
Festival Musik Tong-Tong Semadura 2026 mengusung tema “Irama Tradisi, Semangat Generasi, Satukan Semadura!” Tema itu menemukan relevansinya melalui kehadiran kelompok-kelompok pelajar yang mengambil bagian dalam festival. Musik tong-tong tidak lagi hanya menjadi ruang ekspresi generasi tua, tetapi juga menjadi panggung bagi anak-anak sekolah.
Bagi SMA Negeri 2 Sumenep, keikutsertaan Gita Laras merupakan bagian dari proses pendidikan yang berlangsung di luar ruang kelas. Musik tradisional memberi siswa pengalaman mengenai kerja bersama, kedisiplinan, tanggung jawab, sekaligus keberanian tampil di hadapan publik.
Di sana pula ada persoalan yang lebih besar: bagaimana kesenian tradisional bertahan ketika selera hiburan terus berubah. Tradisi tidak cukup hanya disimpan sebagai arsip atau dipertontonkan pada acara tertentu. Ia membutuhkan generasi yang mau memainkan, mempelajari, dan mengembangkannya.
Keterlibatan siswa SMAN 2 Sumenep memperlihatkan bahwa pelestarian kebudayaan tidak selalu harus dilakukan melalui cara-cara formal. Sekolah dapat menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan kembali kesenian daerah kepada generasi muda.
Di tangan para siswa, musik tong-tong mendapatkan kesempatan untuk terus berbunyi. Kreativitas mereka menjadi jembatan antara warisan masa lalu dan selera generasi hari ini.
Festival itu akhirnya bukan hanya soal siapa yang tampil paling baik. Ia juga menjadi pengingat bahwa kebudayaan akan tetap hidup selama ada generasi yang bersedia merawatnya.
Dari nomor urut 07, Gita Laras membawa pesan sederhana: tradisi tidak harus berhenti sebagai kenangan. Ia bisa terus dimainkan, dikembangkan, dan diwariskan, dengan irama yang mungkin berubah, tetapi dengan identitas yang tetap dijaga.
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *

